Tuesday, April 4, 2017

Melacak Kembali Eksistensi Pemuda Dalam Pembangunan Perdesaan



Oleh : Syamsul Kaidah
(Catatan Awal Menjelang Perjuangan Pemuda Dalam PSP-3 
Angkatan XXII; Sulawesi Tengah)

Prolog
Hasrat Ingin Berubah
“...Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, 
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan hanya mengubah negeriku.
Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil.
Ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersisa.
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.
Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
Tiba-tiba kusadari,
andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,
mungkin aku dapat mengubah keluargaku.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.
Kemudian siapa tahu aku bahkan dapat mengubah dunia...”



Diskursus soal kaum muda tak akan pernah habisnya menghiasi “headline koran kehidupan”. Dalam konteks apapaun, cerita tentangnya seakan telah “garam kehidupan” di bangsa ini. Sekalipun ada segelintir orang yang sudah cukup pesimis dengan keberadaan pemuda dalam kondisi bangsa yang jauh semakin kompleks.
Mungkin tak ada salahnya jika penulis ingin sekedar mengungkapkan bahwa sejarah perjalanan suatu bangsa sejatinya tidak terlepas dari keberadaan dan peran pemuda. Peradaban dunia yang terwujud hari ini juga adalah sedikit bagian dari kiprah dan eksistensi pemuda di masa lalu. Begitupun dengan sebuah “ornamen” megah yang bernama Indonesia.
Tapak tilas dan rekam jejak para pemuda dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia memiliki sejarah yang sangat heroik. Dalam konteks perubahan sosial Indonesia, pemuda selalu berada di garda paling depan. Tak jarang, pemuda menjadi pemompa semangat, pencerah pemikiran dan pembakar api perjuangan untuk keluar dari penjajahan dan keterjajahan. Itulah sebabnya mengapa Presiden pertama Indonesia, Bung Karno hanya meminta 10 orang pemuda saja untuk membangun bangsa ini daripada 1000 orang tua tak berdaya.
Marilah sejenak kita merefleksi kembali ingatan kita tentang sejarah masa lalu Indonesia dan bagaimana peran pemuda waktu itu. Tentu kita masih ingat Hari Kebangkitan Nasional 1908, Hari Kelahiran Ikrar sumpah Pemuda 1982, dan Hari Kemerdekaan Indonesia 1945. Semuanya itu terjadi berkat perjuangan pergerakan pemuda yang ingin membebaskan bangsa tercintanya dari segala bentuk ketertindasan. Bahkan, gerakan reformasi 1998 juga tak lepas dari peran pemuda, mahasiswa, pelajar, dan elemen masyarakat lainnya.
Ini artinya, pemuda secara historis memberikan kontribusi yang cukup besar bagi bangsa Indonesia. Dengan begitu, tidak ada alasan dalam program pembangunan desa, peran dan kiprah pemuda untuk tidak diikutsertakan.
Masalah Umum dalam Pembangunan Desa
Pembangunan pada prinsipnya sebuah proses sistematis yang dilakukan oleh masyarakat atau warga setempat untuk mencapai suatu kondisi yang lebih baik dari apa yang dirasakan sebelumnya. Namun demikian, pembangunan juga merupakan proses bertahap untuk menuju kondisi masyarakat yang lebih ideal.
Oleh karena itu, masyarakat ingin melakukan pembangunan perlu melakukan tahap yang sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya dengan mempertimbangkan segala bentuk persoalan yang tengah dihadapinya.
Besarnya disparatis antara desa maju dengan desa tertinggal banyak disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia yang profesional, belum tersusunnya kelembagaan sosial-ekonomi yang mampu berperan secara efektif dan produktif, pendekatan top down dan button up yang belum seimbang, pembangunan belum sepenuhnya partisipatif dengan melibatkan berbagai unsur, kebijakan sentralistik sementara kondisi pedesaan amat plural dan beragam, pembangunan pedesaan belum terintegrasi dan belum komperhensif, belum adanya fokus kegiatan pembangunan pedesaan, lokus kegiatan belum tepat sasaran, dan yang lebih penting kebijakan pembangunan desa selama ini belum sepenuhnya menekankan prinsip pro poor, pro job, dan pro growth.
Kenyataan di atas tentu sangat menghawatirkan kita semua. Mengapa desa yang memiliki kekayaan yang melimpah dan sumber daya alam yang tak terhitung justru mengalami ketertinggalan. Padahal pasokan makanan dan buah-buahan untuk wilayah perkotaan semuanya berasal dari desa. Desa memiliki lahan yangn luas, wilayah yang strategis, dan kondisi yang memungkinkan untuk berkaya dan mencipta. Mengingat demikian besarnya sumber daya manusia desa, ditambah dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, serta dilihat dari strategi pertahanan dann keamanan nasional, maka sesungguhnya basis pembangunan nasional adalah di pedesaan. Sangat disayangkan sekali bila pembangunan nasional tidak ditunjang dengan pembangunan pedesaan.
Posisi Strategis Pemuda
Sebelum kita mendiskusikan posisi strategis dari pemuda dalam pembangunan pedesaan, baiknya kita potret terlebih dahulu kondisi objektif bangsa kita saat ini. Secara objektif, bangsa Indonesia berada dalam situasi “krisis”. Krisis dalam arti negara sedang mengalami phatologi atau kondisi sakit yang amat serius. Negara telah mengalami salah urus, rapuh dan lemah. Banyaknya para birokrat negara yang korup dan belum menunjukan keberpihakannya pada rakyat cukup membuktikan betapa rapuhnya kondisi bangsa kita. Dampak dari salah urus yang sedang kita hadapi saat ini adalah terdapat 40 juta rakyat berada dalam garis kemiskinan, dan hampir 70% rakyat miskin berada di pedesaan. Sumber daya alam (air, panas, bumi, barang tambang, hasil tani) dimiliki pengusaha asing, sekitar 13 juta rakyat tidak memiliki pekerjaan, kualitas pendidikan yang masih rendah, banyak warga yang tidak bisa melanjutkan pendidikan dan tingkat buta huruf masih tinggi. Kondisi ini diperparah dengan ketersediaan pangan yang semakin terbatas. Krisis sosial juga berdampak pada memudarnya nilkai-nilai gotong royong, pratik swadaya mulai melemah seiring dengan memudarnya budaya lokal yang semakin tergeser oleh budaya lain.
Maka dalam rangka memperbaiki kondisi krisis yang tengah dihadapi bangsa kita sehingga berimbas pada tersendatnya pembangunan di pedesaan. Keberadaan pemuda sebagai penggerak dan perubah keadaan sangat penting memainkan posisi startegis. Strategis mengandung arti bahwa pemuda adalah kader penerus kepemimpinan nasional dan juga lokal (desa), pembaharu keadaan, pelopor pembangunan, penyemangat bagi kaum remaja dan anak-anak.
Karena itu, paling tidak ada 3 peran utama yang bisa dilakukan pemuda sebagai kader penerus bangsa, yaitu; sebagai organizer yang menata dan membantu memenuhi kebutuhan warga desa; sebagai mediamaker yang berfungsi menyampaikan aspirasi, keluhan dan keinginan warga; dan sebagai leader pemimpin di masyarakat, menjadi pengurus publik/warga. Ketiga peran itulah setidaknya yang harus dilakukan pemuda dalam menggerakan pembangunan di pedesaan.
Dan yang lebih penting lagi, ada beberapa tindakan yang harus dilakukan sebagai strategi pembangunan di pedesaan. Pertama; berpartisipasi dalam mempraktekan niali-nilai luhur budaya lokal dan agama, serta membangun solidaritas sosial antar warga. Kedua; aktif dalam membangun dan mengembangkan wadah atau organisasi yang memberikan manfaat bagi warga. Ketiga; memajukan desa dengan memperbanyak belajar, karya dan cipta yang bermanfaat bagi warga. Keempat; berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah desa. Dan kelima; melakukan upaya-upaya untuk mendorong pemerintahan dalam setiap tingkatan (pusat, daerah dan desa) untuk menjalankan fungsinya sebagai pengurus warga yang benar-benar berpihak pada warga.
Strategi dan perencanaan pembangunan desa akan tepat mengenai sasaran, terlaksana dengan baik dan dimanfaatkan hasilnya, apabila perencanaan tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan warga setempat atau menekankan prinsip pro poor, pro job dan pro growth. Untuk memungkinkan hal itu terjadi, khususnya pembangunan perdesaan, mutlak diperlukan keikutsertaan warga desa secara langsung dalam penyusunan rencana dan terlibat dalam setiap agenda. Sikap gotong royong, bahu-membahu, dan saling menjaga hendaknya dilakukan warga desa demi terciptanya pembangunan desa yang lebih baik.
Keberhasilan pembangunan desa pada akhirnya berarti juga keberhasilan pembangunan nasional. Karena desa tidak dipungkiri sebagai sumber kebutuhan warga perkotaan. Dan sebaliknya ketidakberhasilan pembanggunan pedesaan berarti pula ketidakberhasilan pembangunan nasional. Apabila pembangunan nasional digambarkan sebagai suatu titik, maka titik pusat dari lingkaran tersebut adalah pembangunan pedesaan. Karena itu pemerintah dalam hal ini jangan mengabaikan desa dan mengenyampingkan kebutuhan warga desa. Ciri sebuah negara yang maju bukan bertolak pada pembangunan yang bersifat sentralistik, dalam hal ini berpusat di perkotaan. Tapi antara desa dan kota memerlukan pembangunan yang seimbang dan merata. Wallahu ‘alam bisshawab.


EmoticonEmoticon