Tuesday, April 18, 2017

Era Modern: Masyarakat Sultra Harus Cerdas Di Pesta Demokrasi


Isman (Ketua Umum HMI Komisariat Bahasa Unissula periode 2016-2017)
Tahun 2017 sebentar lagi akan berguling. Sulawesi Tenggara sebentar lagi akan memasuki babak baru. Ini merupakan suatu pesta demokrasi yang meriah bagi masyarakat Sultra untuk memilih figur terbaik dalam memimpin. Siapapun memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memimpin Sultra. Tidak pandang bulu dari kalangan mana saja, tidak melihat suku, ras, maupun agama, asalkan memenuhi syarat KPU maka mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mencalonkan diri, dan jika terpilih mereka memiliki hak dan kesempatan untuk memimpin Sultra lima tahun mendatang. Sehingga, sangatlah penting bagi -masyarakat sultra- untuk memilih sosok yang pantas dan tepat dalam memimpin Sultra nantinya.

Sejauh ini tidaklah begitu mengherankan, ketika sejumlah nama mulai bermunculan untuk memeriahkan pesta demokrasi nantinya, mulai dari kalangan akademisi, praktisi, politisi sampai pada kalangan TNI dan Polisi. Niat dan maksud merekasesungguhnya sangat mulia dalam rangka membangun Sultra agar lebih maju lagi. Kemudian, niat itu dibungkus dalamVisi dan Misi yang didesain sedemikian rupa agar terdengar menarik untuk meyakinkan dan menarik simpat hati rakyat.

Di dunia demokrasi, beradu gagasan dan intelektual untuk meyakinkan masyarakat merupakan hal yang wajar. Karena, demikian itu merupakan langkah agar masyarakat mengetahui kepantasan dan ketangkasan mereka untuk memimpin, juga masyarakat bisa mengetahui daya intelektaul mereka untuk menjadi nahkoda bagi Sultra nantinya. Sebab pada hakikatnya, pemimpin bukan persoalan bisa atau tidaknya dalam memimpin, namun harus memiliki daya intelektual yang luas. Pasalnya, seorang pemimpin selain menjadi pelayan juga merupakan penentu arah untuk masyarakat yang dipimpinnya. Jika, pemimpin tidak memiliki daya intelektual yang luas, maka bisa di pastikan masyarakatnya akan mengalami ketertinggalan.

Sehingga, sangatlah patut -bagi masyarakat sultra- untuk menjadi pemilih yang cerdas yakni pemilih obyektif dan partisipan. Pemilih yang obyektifadalah mereka yang tidak mau ditukar hak suaranya dengan lembaran merah, apalagi sampai ditekan dan diancam untuk berpihak pada tokoh yang tidak disukainya. Sedangkan pemilih yang partisipan adalah mereka yang melihat ketangkasan dan daya intelektual serta visi dan misi calon yang akan dipilihnya. Melalui nalar yang realistis, para pemilih partisipan akan mempertimbangkan visi dan misi setiap calon yang akan di pilihnya.Sebab, kesalahan dalam memilih akan berakibat fatal bagi masyarakat Sultra dalam 5 tahun kedepan. Sehingga, untuk mengindari hal itu, maka sangatlah pantas, jika sebelum memilih kita perlu mempertimbangakan daya intelektual dan kecerdasan figur yang akan menjadi pemimpin Sultra lima tahun kedepan. So, jadilah pemilih yang obyektif dan partisipan.

Selanjutnya, di era modern seperti sekarang, menjadi hal yang sangat penting untuk menjadi pemilih yang cerdas. Karena pemilih cerdas akan mempertimbangkan tokoh yang patut menjadi pemimpin. Selain melihat pada syarat mutlak bahwa pemimpin harus memiliki daya intelektual yang luas, mereka juga harus memiliki supremeintelligence on relation yakni kecerdasan yang tinggi dalam melakukan kerjasama. Sebab, untuk membangun suatu daerah diperlukan cooperation untuk mengembakan dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki daerah (dalam hal ini Sultra). Jika tidak, maka sumber daya yang dimiliki hanya akan dimanfaatkan oleh orang lain dan masyarakatpunhanya akan menjadi penonton di belakang layar.

Oleh karenanya, untuk mengantisipasi hal tersebut perlu kiranya kita menganalisa siapa figur yang cocok dan tepat untuk memimpin Sultra di era modern ini. Mari kita mengenal lebih dalam lagi, sejumlah nama yang telah memproklamirkan diri untuk maju sebagai pemimpin Sultra di periode 2018-2023. Namun pada kesempatan ini, yang menarik adalah hadirnya sosok akademisi yang namanya telah dikenal lama di panggung nasional. Tokoh kelahiran Kaledupa Wakatobi ini bernama lengkap Prof. Laode Masihu Kamaludin MSc, MEng, Phd. Beliau lebih akrab disapa Prof LaOde. atau Prof. LMK. Sepak terjangnya sebagai figur visioner di era modern telah nampak sejak beliau menjadi staf ahli wakil presiden Bj. Habibie yang mana, mampu mencetuskan ekonomi maritim berbasis pulau-pulau. Kemudian, skillcooperation yang dimilikinya juga terlihat ketika memimpin Universitas Islam Sultan Agung, Semarang. Dalam periode empat tahun prof. LMK mampu melakukan kerjasama dengan sejumlah kepala daerah di Sultra(mulai dari Gubernur hingga pada para Walikota)dalam Program Cerdas Sultraku. Lewat program inilah para mahasiswa yang memiliki ekonomi level menengah kebawah bisa mengenyan pendidikan di Jawa. Selain itu program Cerdas Sultraku merupakan langkah untuk meningkatkan sumberdaya manusia Sultra. Tidak sedikit, mahasiswa didikan belau, bersaing di dunia intrenasional. Hal lain, yang tidak kalah pentingnya untuk diketahui mengenai sosok prof Laode sebagai pemimpin di era modern adalah ketangkasannyamelakukan kerja sama dengan 3 negara yang memiliki infrastruktur terbaik dalam sektor industri pertanian, yakni: Korea, Kanada dan Jerman, dalam program Green House yang juga menjadi ide briliannya lewat Universitas Lakidende, Unaaha. Program Green House ala Korea pertama di Indonesia yang dicetuskannya adalah tidak lain untuk meningkatkan sektor pertanian di Sultra secara umum. Sehingga, dengan program ini perekonomian masyarakat Sultra bisa maju. Ide brilian yang dimiliki oleh Prof Laode bukan hanya lamunan yang ada di dongeng-dongeng telenovela belaka, namun hal itu sudah terbukti. Sehingga, menurut hemat penulis, beliau adalah pemimpin visioner di era modern seperti sekarang. Keluasan ilmu dan daya intelektualnya tidak lagi diragukan, apalagi hanya untuk memimpin Sultra dalam lima tahun mendatang.

Di akhir tulisan ini, penulis menegaskan jadilah pemilih yang cerdas yakni pemilih obyektif dan partisipan. Melihat fakta yang dikerjakan bukan janji yang di sampaikan. Menganalisa visi dan misi secara obyektif bukan mendengar bualan tanpa dasar. Sehingga, Sultra mampu exist dan bersaing di era global dengan memanfaatkan sumberdayanya untuk kemajuan masyarakatnya, bukan dimanfaatkan sumberdayanya untuk penindasan masyarakat Sultra sendiri.  


EmoticonEmoticon